Wednesday, July 20, 2011

Reinkarnasi dalam Filsafat Islam

Jadi penggemar di Facebook ...
Bagikan artikel ini ..
Tentang Reinkarnasi

Dalam masa filsafat Yunani, lebih tepatnya pada masa filsuf yang ahli aritmatika yang terkenal Phytagoras, terbentuk lingkaran murid yang tradisinya diteruskan selama dua ratus tahun. Menurut mereka prinsip matematika merupakan dasar segala realitas. Mereka menganut ajaran reinkarnasi, Mereka diam dan menyisihkan diri dari masyarakat dan hidup selalu dengan amal ibadat. Tujuan kaum Phytagoras ini adalah mendidik kebatinan dengan menyucikan ruh. Hal ini tidak terlepas dari pendapat yang berkembang di kalanganya bahwa sang pendahulunya telah mengembangkan sebuah konsep reinkarnasi yang sistematis, yakni matematika yang selalu terkait dengan hukum sebab akibat, yang kemudian sering kita sebut sebagai karma. Menurut mereka badan merupakan kubur jiwa (soma – sema, “tubuh-kubur”). Agar jiwa dapat terbebas dari badan, manusia perlu menempuh jalan pembersihan. Dengan bertapa bekerja secara rohani, terutama dengan berfilsafat dan bermatematika, manusia dibebaskan dari keterikatan inderawi dan dirohanikan[1].

Demikian sejarah mengenai konsep reinkarnasi pada zaman Yunani kuno. Kata reinkarnasi berasal dari bahasa Latin yang dalam bahasa Indonesia berarti "lahir kembali" atau "kelahiran semula”, kelahiran kembali ini merupakan suatu proses penerusan kelahiran dari kehidupan sebelumnya. Kelahiran kembali ini merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang yang mati akan dilahirkan kembali di kehidupan lain. Orang tersebut lahir dengan wujud tertentu sesuai dengan perbuatannya yang telah dilakukan di kehidupan yang lalu.

Kelahiran kembali jiwa atau diri dalam rangkaian fisik atau penjelmaan yang diluar kebiasaan, yang biasanya (kelahiran tersebut) pada manusia atau binatang di alam semesta akan tetapi kadangkala juga pada beberapa bentuk ruhaniah seperti malaikat, setan, tumbuh-tumbuhan atau astrologis[2]. Meskipun banyak di gunakan sebagai suatu konsep aktualisasi kembali, pada dasarnya reinkarnasi merupakan evolusi konsep penalaran manusia setelah penalaran monoteisme yang meyakini wujud Yang Maha Tinggi, dan Maha Esa dan rasionalitas dengan sebab-akibat.

Ada yang kelompok atau aliran yang mempercayai bahwa manusia akan terus menerus lahir kembali. Dan ada juga yang mempercayai bahwa manusia akan terlepas dari reinkarnasi jika mereka melakukan kebaikan yang mencukupi, yang pada masa Phytagoras dengan bertapa bekerja secara rohani, berfilsafat dan bermatematika, manusia dibebaskan dari keterikatan inderawi dan dirohani. Dengan demikian ia mendapat kesadaran agung dan menyatu dengan Tuhan yang dalam agama Hindu disebut Mokhsa.

Agama Hindu dan Buddha dikenal mempunyai konsep ini. Agama Buddha meyakini proses kelahiran kembali terjadi pada semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus menerus mengalami reinkarnasi selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian.

Dalam agama Hindu, konsep reinkarnasi mengajarkan manusia untuk sadar terhadap kebahagiaan yang sesungguhnya dan bertanggung jawab terhadap nasib yang sedang diterimanya. Selama manusia terikat pada siklus reinkarnasi, maka hidupnya selalu dalam penderitaan. Sebaliknya jika ia telah mencapai kesadaran tinggi dan berbuat baik maka ia akan terbebas dari siklus reinkarnasi.

Reinkarnasi, Sudut Pandang Agama

Konsep reinkarnasi ini tidak hanya dimonopoli oleh satu atau dua agama, seperti agama Hindu dan Buddha. Konsep reinkarnasi ternyata diterima oleh semua agama, inilah keyakinan yang dikembangkan oleh orang-orang seperti Anand Krisna yang menyatakan bahwa agama Kristen, Katholik dan juga Islam menerima konsep reinkarnasi.

Leo Tolstoy, penulis Rusia abad 19-20 yang sangat terkenal meyakini dalam bukunya meyakini adanya kelahiran setelah kematian:

“The soul is immortal, you know, … so, if I am to live forever, I have lived for all enternity.”[3]

Kurang lebih Leo Tolstoy mengatakan bahwa jiwa itu kekal, dan abadi. Ia meyakini akan hidup selama-lamanya, dan ia berasumsi bahwa pasti pernah hidup sebelumnya.

Salah seorang pemikir dari Amerika yang sering disebut sebagai salah satu Founding Father of American Nation Ralph Waldo Emerson, menuliskan dalam bukunya The Selected Writings of Ralph Waldo Emerson bahwa segala sesuatu dalam dunia adalah “hidup” dan tidak pernah mati. Menurutnya, mereka hanya lenyap dari pandangan untuk sesaat dan pada suatu ketika kembali terlihat lagi. Tidak ada sesuatu pun yang mati. Manusia yang berkabung dan berduka cita bagi mereka yang sebenarnya hanya berganti wujud.

Reinkarnasi Dalam Islam

Dari kalangan umat Islam yang beragumen bahwa reinkarnasi itu ada ialah sang master sufi Jalaludin Rumi dan master sufi lainnya Mansur al-Hallaj. Anand Krisna dalam bukunya Cakrawala Sufi 1: Menyelami Samudra kebijaksanaan Sufi menerangkan perkataan al-Hallaj yang ia kutip dari buku Reincarnation and Islam karya Nadarbeg K. Mirza:

“Like the herbage I have sprung up many a time on the banks of fowing rivers. For a hundred thousand years I have lived and worked and tried in every sort body.”

Al-Hallaj mengatakan bahwa ia pernah muncul berulang kali. Sebelum ia hidup sebagai Mansur al-Hallaj, ia pernah hidup dalam berbagai macam badan[4]. Jalaludin Rumi melangkah lebih jauh lagi dengan menyatakan bahwa setiap kelahiran kembali bukan tanpa tujuan. Setiap ia lahir kembali, ia menjadi lebih “baik”:

“I am but one soul but I have a hundred thousand bodies. Yet I am helpless, since Shariat (exetoric religion) holds my lips sealed. Two thousand men have I seen who were I; but none as good as I am now.”[5]

Rumi telah melihat dua ribu wujud manusia yang telah menjadi miliknya dan ia menegaskan tidak satu pun yang sebaik sekarang. Meskipun demikan, Rumi tidak menjelaskan lebih lanjut tentang reinkarnasi karena syariat agama.

Ketidakmungkinan Berpindahnya Jiwa ke Badan Lain

Dengan pengecualian satu orang, semisal Quthbuddin al-Syirazi, kebanyakan filosof muslim tidak percaya akan ajaran berpindahnya jiwa ke badan lain (metempsychosis) atau berpindahnya jiwa. Mulla Sadra mendukung argumen umum peripatetik menentang ajaran berpindahnya jiwa, seperti Ibnu Sina[6]. Menurut pertimbangan- pertimbangan umum ini, hubungan jiwa dan badan sangat erat, seperti bentuk dan materi. Dalam kompleks (hubungan) bentuk materi, jika bentuk atau materi dipindah, bentuk atau materi tersebut juga hilang dari wujudnya, dan mustahil mengatakan bahwa bentuk sebelumnya telah pindah ke materi lain atau materitelah berpindah kebentuk lain: semuanya hilang dan, digantikan oleh semua sepenuhnya baru dibentuk.

Untuk menolak ajaran reinkarnasi Mulla Sadra memberikan argumennya yang “khas”, yang didasarkan pada konsepsinya mengenai “gerak substantif”. Menurut ajaran ini, pada mulanya jiwa dan badan itu potensial. Ketika potensi-potensi tersebut sedikit demi sedikit direalisasikan, baik jiwa maupun badan bergerak melalui proses evolusioner. Dengan kata lain, jiwa tidak bergerak sendirian, sementara badan tetap statis atau sebaliknya, tetapi keduanya bergerak melalui penyampurnaan menuju wujud baru.

Ketika embrio menjadi janin, tidak hanya kehidupan yang masuk ke wujud, juga terdapat perubahan fisik, dan perkembangan dan perkembangan yang bersisi ganda ini terus berlangsung sepanjang hidup. Menurut Mulla Sadra, karena gerak wujud ini tidak dapat dibalik, adalah mustahil mengandaikan jiwa yang berkembang, sesudah meninggalkan badannya, dapat masuk ke badan baru yang tidak berkembang, kemidian berkembang lagi dari semula. Dengan kata lain, devolusi, yang diasumsikan oleh keyakinan kepada berpindahnya jiwa ke badan lain, tidak mungkin[7].

Namun berpindahnya jiwa kebadan lain ini mengandung masalah-masalah tertentu yang serius, sebagian muncul karena teks-teks keagamaan dan sebagian lainnya karena pandangan-pandangan filsafat mengenai nasib dari manusia yang jiwannya tidak berkembang, pandangan ini juga dipegang oleh Mulla Sadra.

Hakikat manusia pada intinya adalah transenden dan non materi. Sebagai bukti untuk itu adalah kesadaran manusia akan dirinya bersifat huduri dan persepsi terhadap segala objek eksternal melalui proses berfikir. Hakikat ternasenden ini dinamakan sebagai ‘Ruh’, berbagai ketentuan materi seperti kematian atau kehancuran tidak berlaku baginya. Karenanya kematian tidak lebih bermakna lepasnya ruh dari kurungan raga dan berpindah pada alam yang lain dan kebangkitan tidaklah bermakna kehidupan kembali ruh akan tetapi keterikatan ruh pada raga yang baru kembali

Catatan Kaki

[1]Franz Magnis Suseno, 13 Tokoh Etika, Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19, (Kanisius, Yogyakarta: 2007), hal. 12

[2] Mercia Eliade, Encyclopedia of Religion, Vol. 11-12. Hal. 265

[3]Dikutip dari buku War and Peace

[4] Anand Krisna, Cakrawala Sufi 1: Menyelami Samudra kebijaksanaan Sufi, (PT. Gramedia Pustaka, Jakarta:…), hal.

[5] Dikutip dari buku Rumi, Poet and Mystic

[6] Fazlur Rahman, Filsafat Sadra, penerjemah Munir A. Muin (Pustaka, Bandung: 2000), hal. 329, judul asli ThePhylosophy of Mulla Sadra (Shadr al-Din al-Shirazi) terbitan State Univesity of New York, Albany, New York, 1975.

[7] Ibid.

8 comments:

ideastore said...

Terimakasih. Tulisan ini mencerahkan.

acmobil_ciji said...

mohon penjelasan sedikit.kapan dimulainya reinkarnasi kepad manusia?
siapakah manusia yang per tama kali mengalami nya?
apakah jalaludin rumi ,menyebutkan tahun wajah manusia yg pernah menjadi tempat roh nya?
apakah alhalajj juga menyebutkannya?
terima kasih atas penjelasannya.salam

Sejati menuju Ilahi said...

Untuk lebih jelas, dan mengerti inti terdalam dari hidup, dan inkarnasi sebagai bagian dari proses hidup, silakan baca buku :

Diri Sejati, di balik tubuh yang sementara ini , Karya Irmansyah Effendi MSc.

Buku ini akan membawa kita ke pengertian mendalam tentang siapa kita sebenarnya.
Salam dalam damai dan kebahagiaan.

adam (tiada) said...

Setiap zat-zat itu (yang merupakan kumpulan wujud setiap makhluk hidup) akan mencari kesempurnaan yaitu kembali kepada asal mulanya Dzat Allah. Selama zat-zat belum kembali maka dia akan dijadikan oleh Allah dalam wujud makhluk hidup sesuai dengan sifat dasarnya (Allah akan membangkitkan kita sebagaimana awal mula kita diciptakan/lahir dari rahim). Semua akan dikembalikan berdasarkan sifatnya seperti binatang buas dengan sifatnya yang buas, manusia dengan sifatnya yang manusiawi dst. Nah selama kita dihidupkan dalam bentuk fana (makhluk hidup) selama itulah kita merasaan kebinasaan (sedih, susah, sakit dst) dan itulah yang dirasakan setiap makhluk hidup. Kebinasaan yang kekal (reinkarnasi) adalah neraka dalam wujud duniawi, karena reinkarnasi bergantung pada perbuatan, karena proses reinkarnasi itu cukup berat untuk kembali kepada bentuk manusia lagi (proses reinkarnasi : manusia mati dimakan cacing, menjadi kotoran cacing, dimakan tumbuhan, tumbuhan dimakan hewan, menjadi kotoran hewan, dimakan lagi oleh tumbuhan, tumbuhan itu dimakan oleh binatang ternak, binatang ternak dimakan oleh manusia yang akhirnya menjadi nutfah/ mani yang akhirnya dapat menjadi manusia lagi) proses panjang ini tergantung amal perbuatan dan merupakan wujud penderitaan diri kita.
Nah tujuan setiap manusia itu sebenarnya adalah mencari kesempurnaan kepada Dzat Allah, yaitu menyempurnakan sifat-sifatnya sebagaimana sifat-sifat Allah Yang Maha Sempurna. Kunci yang paling utama kembali kepada Dzat Allah(Dzat Yang Maha Suci) adalah mensucikan diri dengan niat dan perbuatan dan kunci yang paling penting adalah Ikhlas dan berserah diri kepada Allah. Berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan dan menyatukan perasaan dengan alam semesta, merasa semuanya adalah bagian dari diri kita sehingga kita memelihara alam semesta seperti kita memelihara diri sendiri, atau dalam istilahnya adalah Tauhid (merasa satu dengan segalanya).

Extra Voucher said...

Reinkarnasi dalam islam-pun juga dikupas dalam al-qur'an dan hadits:
http://cahayagusti.blogspot.com/

themagnetme said...

syekh siti jenar "makrifat kasunyatan 1" karya pak Achmad Chodjim. disitu di ulas masalah reinkarnasi. baca dengan hati terbuka, isinya berat bagi pemula. terimaksaih...

muhammad nizar said...

assalamu'alaikum wr wb permisi agan agan ......... Kerjakan Sholat 5 wktu ,berpuasa,sholat tahajud, membaca dan mengamalkan alqur'an dan beramal terhadap sesama manusia yg membutuhkan insya AllAh,AllAh akan memberikan jalan yg terbaik untk kita...amin ya robbal alamin...

Cahaya Gusti said...

Tidak Setiap Bayi dilahirkan Dalam Kondisi Suci

Reinkarnasi adalah sebuah keyakinan Universal dalam semua agama. Begitu juga dalam agama islam. Salah satu buktinya, tentang bayi dilahirkan tidak semuanya suci,. Memang ada hadits yang menyatakan bahwa setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan suci.
Salah satu bukti lain bahwa setiap bayi yang lahir dalam kondisi tidak suci adalah status anak hasil zina, kelahirannya karena bukan dari hasil pernikahan sehingga menjadi illegal. Ada sebuah hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ, قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:"لا يَدْخُلُ وَلَدُ الزِّنَا الْجَنَّةَ، وَلا شَيْءٌ مِنْ نَسْلِهِ إِلَى سَبْعَةِ آبَاءٍ".(رواه الطبرانى(
Diceritakan dari Abu Hurairah r.a Rasulullah SAW bersabda: "Tidak masuk surga anak hasil zina dan tidak satupun dari keturunan mereka sampai tujuh turunan". (Hr. Tabrany)
عَن ْعَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَو بن العاص, قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:"لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَلَدُ زَنِيَةٍ". (رواه ابن حبان فى صحيحه)
Diceritakan dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak masuk surga yaitu anak dari wanita pezina ". (Hr. Ibnu Hibban)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : " لا يَدْخُلُ وَلَدُ زِنْيَةٍ الْجَنَّةَ " .
Dari Abu Hurairoh berkata: Aku mendengar Raulullah Saw. Bersabda: " Tidak akan masuk surga anak zina". (Hr. An-Nasai)

Dari hadits-hadits di atas, ternyata ada beberapa kasus bayi karena hasil zina, sehingga mendapatkan hukuman tidak bisa masuk surga, bahkan sampai tujuh turunan. Mengapa hal itu bisa terjadi, dosa apakah bayi tersebut...?
hadits tentang anak hasil zina (illegal lahir) adalah tidak masuk surga, sungguh sangat menegaskan bahwa memang benar-benar ada dalam dunia ini jiwa yang terlahir karena mempunyai jejak rekam yang negatif, yang suka berbuat jahat dan maksiat kepada Allah, mereka yang mencari rizki, jabatan dan kedudukan dengan cara harom, maka jangan heran jika dilahirkan kembali menjadi anak illegal lahir.
Untuk lebih lengkapnya lihat di :
http://cahayagusti.blogspot.com/2012/09/reinkarnasi-dalam-al-quran-dan-hadits.html

Post a Comment