Monday, May 2, 2011

Bom Bunuh-Diri: Antara Jihâd dan Terorisme

Jadi penggemar di Facebook ...
Bagikan artikel ini ..

Gambar diambil dari: http://us.detiknews.com/read/2009/04/06/001908/1110652/10/22-orang-tewas-akibat-bom-bunuh-diri-di-pakistan

Oleh Syaipul Koha

“Suicide terrorism is rising around the world, but the most common explanations do not help us understand why? Religious fanaticism does not explain why the world leader in suicide terrorism is the Tamil Tigers in Sri Lanka, a group that adheres to a Marxist/Leninist ideology, while existing psychological explanations have been contradicted by the widening range of socio-economic backgrounds of suicide terrorists.” [1]

Bom bunuh diri telah mengemuka di seluruh dunia, tapi penjelasan yang umumnya kita terima tidak cukup membantu untuk memahami kenapa bom bunut-diri ini terjadi? Fanatisme religius atau fundamentalis agama tidak mampu untuk menjelaskan kenapa pemberontak Macan Tamil di Sri Lanka menempati urutan teratas dalam aksi bom bunuh-diri, padahal mereka merupakan sekelompok orang yang menganut ideologi Marxis-Leninis, sementara penjelasan psikologis selalu dibantah dengan latar belakang sosial-ekonomi dari pelaku bom bunuh-diri.

Serangan bom bunuh-diri merupakan sebuah tindakan penyerangan di mana pelaku pemboman tersebut mempunyai tujuan untuk membunuh orang lain serta bermaksud untuk turut mati dalam proses serangan itu. Istilah bom bunuh-diri ini kadang-kadang digunakan secara leluasa dalam sebuah kejadian di mana maksud sang pelaku tidak cukup jelas tujuanya meskipun ia pasti akan mati karena pembelaan diri atau tindakan ini merupakan sebuah pembalasan dari pihak yang diserang.[2] Seperti yang telah kita ketahui bersama, tindakan bom bunuh-diri seringkali dikaitkan dengan ideologi fundamentalis yang cenderung bersifat radikal. Namun jika memahami apa yang dikatakan Pape dalam bukunya Dying To Win: The Strategic Logic of Suicide tindakan terrorisme, bom bunuh-diri misalnya, sepertinya tidak ada hubungan yang kuat antara bom bunuh-diri dengan fundamentalis agama yang kita kenal dengan Jihâd. Mengapa demikian? Pape menjelaskan bahwa hal ini terkait dengan usaha mereka untuk mengusir tentara yang berada di tahan air mereka.

Pada dasarnya, Jihâd tidak sama dengan teror. Ideologi Jihâd dikemukakan untuk menanamkan aspek religius dalam beragama. Jihâd juga tidak selalu bermakna perang, Nabi Muhammad SAW² sendiri pernah menjelaskan bahwa Jihâd terbesar adalah melawan hawa nafsu, bukan perang. Namun saat ini yang terjadi, Jihâd hanya dimaknai sebagai usaha perlawanan terhadap orang lain. Yang lebih parah Jihâd tersebut telah mengalami modifikasi dengan doktrin bunuh-diri di dalamnya.

Lebih jauh makalah ini akan sedikit banyak mengemukakan mengapa orang mau menjadi pengebom bunuh-diri? sejauh mana doktrin islam tentang Jihâd mengenai aksi bom bunuh-diri, serta apakah adakah keterkaitan tindakan bom bunuh-diri dengan cara atau pola berpikir seseorang? Makalah ini ingin mencoba mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan diatas sekaligus mencoba menjelaskan faktor penyebab seseorang rela mengorbankan dirinya demi kepentingan yang masih dipertanyakan, dalam hal ini kami menaruh perhatian lebih pada teori dari Robert Pape.

Jihâd Persfektif Islam

Agak aneh memang jika ada satu agama yang membolehkan bahkan menganjurkan untuk bunuh-diri demi membela agamanya. Namun itulah yang terjadi, mereka yang melakukan bom bunuh-diri cenderung berlindung dalam kedok bernama Jihâd. Jihâd merupakan kata yang berasal dari bahasa arab yang memiliki makna berupaya secara sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan untuk mencapai tujuan tertentu, Jihâd Fî Sabîlillâh berarti upaya sungguh-sungguh dengan mengerahkan kemampuan agar selalu berada dijalan Allah.[3] Dengan demikian secara etimologis, sesungguhnya makna dari kata Jihâd tersebut tidak mengandung kekerasan sedikit pun. Hal ini berbeda jika makna Jihâd telah diinterpretasikan secara semena-mena oleh seorang ulama dengan mengidentikan sebagai perlawanan terhadap kaum kafir.

Dengan kata lain, Jihâd bukanlah bunuh diri dan bunuh-diri bukanlah Jihâd. Jihâd adalah sebuah usaha untuk mematuhi perintah dan larangan Tuhan. Jihâd tidak sama dengan teror. Ideologi Jihâd dikemukakan untuk menanamkan aspek religius dalam beragama. Jihâd juga tidak selalu bermakna perang, Nabi Muhammad SAW sendiri pernah menjelaskan bahwa Jihâd terbesar adalah melawan hawa nafsu, bukan perang. Namun saat ini yang terjadi, Jihâd hanya dimaknai sebagai usaha perlawanan terhadap orang lain. Yang lebih parah Jihâd tersebut telah mengalami modifikasi dengan doktrin bunuh-diri di dalamnya.

Kenyataanya, mungkin akan terlihat sedikit kontras dengan berbagai dalil yang ada dalam al-Qur’an yang mengharamkan bunuh-diri. Dalam al-Qur’an disebutkan: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (wa lâ tulqû bi-aydîkum ilâ al-tahlukah)[4] dan “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri (wa lâ taqtulû anfusakum).[5]

Bom Bunuh-Diri: Nasionalisme Sekuler Semata

Suicide terrorism is the most aggressive form of terrorism, pursuing coercion even at the expense of losing support among the terrorists’ own community.6
Bom bunuh diri merupakan bentuk terorisme yang sangat agresif. Dalam bom bunuh diri pelaku pemboman tersebut umumnya menyadari bahwa ia tidak akan lolos dari maut. Dengan kata lain, pelaku pasti mati. Mereka tentu melakukan hal demikian karena mendapat dukungan sesama teroris dalam komunitas atau organisasinya.

Teror bom bunuh-diri, menurut catatan Robert Pape, telah berlangsung sejak 1980-an. Ia berbicara mengenai logika strategis, sosial, dan individual dari terror bom bunuh-diri. Penelitian yang dilakukan Pape secara metodologis lebih kuat dibandingkan perbandingan studi kasus yang selama ini dilakukan. Ia mengumpulkan secara komprehensif berbagai aksi teror bom bunuh-diri di berbagai belahan dunia.
Bom bunuh-diri awalnya dicetuskan oleh kelompok Hizbullah demi perlawananya terhadap Israel sekitar tahun 1983. Bom bunuh-diri dijadikan senjata untuk melawan Israel, J. Esposito dalam bukunya Unholy War, mengemukakan bahwa bom bunuh-diri oleh Hizbullah dijadikan senjata untuk mengimbangi Israel yang memiliki bom nuklir. “Jika Israel punya bom nuklir, kita punya bom manusia”.7 Hizbullah sepertinya tidak mempunyai banyak pilihan untuk menandingi persenjataan Israel. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa dengan senjata bom bunuh-diri ini, cukup mengganggu stabilitas keamanan di Israel.

Sebuah senjata diciptakan tentunya tidak mengenal ideologi, ia hanyalah alat untuk mempertahankan serta memperjuangkan kepentingan dari pemegang senjata. Sedangkan ideologi merupakan sekumpulan konsep memiliki sistem di dalamnya, ideologi adalah cara berpikir seseorang atau suatu sekelompok tetentu.[8] Cara berpikir seseorang tidak semestinya langsung dikaitkan dengan tindakan orang itu, tentu benyak faktor yang saling berkaitan atas tindakanya. Bom bunuh-diri misalnya, banyak yang berpendapat bahwa hal itu terkait dengan ideologi pelaku bom tersebut. Padahal tidak demikian, Robert Pape mengemukakan melalui penelitianya yang mendalam bahwa bom bunuh-diri terjadi tidak semata-mata ideologi fundamentalis yang dianut melainkan untuk memperjuangkan dan mengusir para penjajah dari tanah yang mereka klaim.

Bom bunuh-diri merupakan senjata sekolompok orang untuk mengusir orang yang tidak disukai, yang telah hadir di tanah yang mereka klaim sebagai miliknya. Dengan kata lain, bom bunuh-diri lebih merupakan faktor spirit nasionalisme suatu kelompok masyarakat bukan fundamentalisme agama.[9] Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa hubungan antara tindakan terorisme dengan cara bom bunuh-diri dan fundamentalisme Islam tidak sekuat seperti yang diduga selama ini.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya tentang penelitian dari Pape, ia meneliti berbagai kasus bom bunuh-diri di belahan dunia. Kenyataanya bom bunuh-diri tidak dimonopoli oleh ideologi islam dengan aksi dari Hizbullah, berbagai kasus bom bunuh-diri juga pernah dilakukan oleh tentara jepang melalui kamikaze-nya. Pada Perang Dunia II, serangan bunuh-diri menjadi ciri khas dipakai pilot-pilot Jepang.

Mereka melakukan kamikaze dengan cara menjadikan diri mereka sebagai peluru kendali manusia. Mereka menerbangkan pesawat yang penuh dengan bahan peledak dan menabrakkan pesawat pada kapal-kapal musuh. Belakangan bom bunuh-diri lebih banyak dilakukan oleh kelompok Macan Tamil di Sri lanka, kelompok ini bukanlah kelompok yang menganut ideologi islam. Ia lebih merupakan sebuah kelompok yang menganut Marxis-Leninis yang anggotanya berasal dari keluarga Hindu dan yang patut digaris bawahi adalah mereka sendiri mengabaikan aspek keagamaan. Hal ini semakin memperkuat teori yang dikemukakan oleh Pape:

Most suicide terrorism is undertaken as a strategic effort directed toward achieving particular political goals; it is not simply the product of irrational individuals or an expression of fanatical hatreds. The main purpose of suicide terrorism is to use the threat of punishment to coerce a target government to change policy, especially to cause democratic states to withdraw forces from territory terrorists view as their homeland.[10]

Menurut Pape, dari semua aksi bom bunuh-diri yang terjadi terdapat kesamaan dari hampir semua aksi tersebut yakni tujuan khususnya yang bersifat sekular dan strategis. Tujuannya adalah untuk memaksa agar negara-negara demokratis modern menarik mundur kekuatan militer mereka dari wilayah yang oleh para pelaku bom bunuh-diri dianggap sebagai tanah air mereka.11 Jelas hal ini mencerminkan sesuatu yang sekuler semata, bukan sesuatu yang bersifat rohani atau religiusitas.

Adapun yang menopang teori Pape diatas, seperti yang dijelaskan oleh Ihsan Ali-Fauzi, adalah tujuan strategis politis dari aksi bom bunuh-diri itu. Mereka berupaya untuk membangun atau mempertahankan kedaulatan politik (political self-determination) di tanah air mereka sendiri. Di sini Pape membedakan antara egoistic suicide (bunuh-diri sebagai pelarian diri karena alienasi, misalnya) dan altruistic suicide (bunuh-diri untuk mencapai tujuan yang lebih besar).[12] Oleh karena itu, peran agama dalam hal ini bukanlah sebagai ideologi yang harus diwujudkan tetapi hanya sebagai sarana perekrutan calon yang akan dijadikan bom bunuh-diri. Serta sebagai sarana dalam mengumpulkan dukungan dana dari berbagai negara yang umumnya tidak menyukai Barat.

Hingga saat ini, banyak aktivis Islam yang bersepakat bahwa kerelaan untuk mati (Jihâd) dalam rangka membela ‘kebenaran’ adalah bentuk kesaksian tertinggi kepada Tuhan, yang tentunya akan dijamin surga. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika beberapa ulama yang cukup terkenal dan dihormati di Timur Tengah, seperti Yusuf Wardhawi, mendukung aksi-aksi ‘kesyahidan’ menentang pendudukan Barat di negara-negara Islam. Mereka bahkan mengeluarkan fatwa-fatwa yang mendukung aksi-aksi bom bunuh-diri itu. Mestinya kita merenungi kembali dan menelaah secara komprehensif, adakah kebenaran dalam setiap aksi kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan dalam kedok bernama agama? Jika iya, berarti ada yang salah dalam agama itu atau mungkin kita yang salah dalam memahaminya.
------
Footnote:

[1]. Robert A. Pape, The Strategic Logic of Suicide Terrorism, American Political Science Review, Agustus 2003, Vol. 97, No. 3, Hal. 1.
[2] Serangan Bunuh-diri, http://id.wikipedia.org/wiki/Serangan_bunuh_diri, diakses pada tanggal 27 April 2011 pukul 19.30 WIB.
[3] Abd. Muqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an, (KataKita, Depok: 2010), Hal. 377.
[4] QS. 2: 195.
[5] QS. 4: 29.
[6] Robert A. Pape, The Strategic Logic of Suicide Terrorism, Hal. 3.
[7] J. Esposito, Unholy War, 2002, Hal. 99.
[8] Tim Penyusun Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia, (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: 2008), Hal. 538.
[9] Lihat Wawancara Redaksi Jaringan Islam Liberal dengan Ihsan Ali-Fauzi, dalam Ihsan Ali-Fauzi: Suicide Terrorism Lebih Dipicu Oleh Nasionalisme, http://islamlib.com/id/artikel/suicide-terrorism-lebih-dipicu-oleh-nasionalisme, Diakses pada tanggal 27 April 2011 pukul 20.00 WIB.
[10] Robert A. Pape, The Strategic Logic of Suicide Terrorism, Hal. 3.
[11] Ihsan Ali-Fauzi, Terorisme Bunuh-Diri dan Transformasi Doktrin Jihad di Kalangan Muslim, http://paramadina.wordpress.com/2007/06/20/transformasi-doktrin-jihad-di-kalangan-muslim/, diakses pada tanggal 27 April 2011 pukul 19.40 WIB.
[12] Ibid.

Syaipul Koha, Koran Harian Waspada Fellow
Mahasiswa Falsafah dan Agama Universitas Paramadina.

0 comments:

Post a Comment